Daftar Umroh
> Klik Daftar Umroh <
Daftar Haji
> Klik Daftar Haji <
Call: Eldin | Rini | Kiki | WA Zahra

Badal Haji 2019 – Apa Saja Hukum Dan Batasannya Dalam Islam

Badal haji 2019 sangat penting untuk dipelajari bagi semua umat Islam. Jika di sebuah negara terdapat jasa travel haji yang membentuk program membadalkan haji, bagaimana hukumnya jika Anda memberikan sejumlah uang pada jasa tersebut sebagai ongkos haji, kemudian terdapat penuntut ilmu yang akan melaksanakan haji tersebut untuk Anda?

Alhamdulillah, saat ini membadalkan haji menjadi lebih mudah bagi banyak orang. Namun, sangat penting sekali untuk mengetahui apa saja syarat, hukum, dan batasan-batasan dalam menunaikan ibadah tersebut. Berikut penjelasan tentang bagaimana membadalkan haji yang wajib Anda ketahui.

1. Badal Haji Untuk Haji Fardhu Bagi Muslim Yang Mampu Secara Fisik

Anda memiliki fisik yang masih kuat. Kemudian, Anda meminta oranglain untuk membadalkan haji sebagai haji fardhu untuk Anda. Apakah ini diperbolehkan? Tentu saja, ibadah seperti ini hukumnya tidak sah, mengapa demikian?

Ibnu Qudamah r.a. menjelaskan bahwa seorang Muslim tidak diperbolehkan untuk melakukan haji fardhu bagi orang yang masih mampu fisiknya untuk melakukan haji sendiri.

Hal ini juga didukung dari pendapat Ibnu Munzir yang menyampaikan bahwa para ulama telah menyepakati bahwa haji fardhu adalah wajib dilakukan oleh orang itu sendiri selama fisiknya masih mampu.

Jadi, jika Anda masih memiliki fisik yang sehat dan mampu melakukan rangkaian ibadah haji tersebut, maka tidak sah jika Anda meminta oranglain untuk menghajikan Anda. Penjelasan tersebut telah disampaikan dalam kitab Al-Mughni 3/185.

2. Pembadalan Orang yang Sakit

Bagaimana hukumnya melakukan membadalkan haji bagi orang yang sakit sampai-sampai tidak ada harapan untuk sembuh, sampai-sampai fisiknya begitu lemah? Bagaimana hukumnya membadalkan haji bagi orang yang lemah atau fakir karena kondisi keamanan atau kondisi politik?

Memang, haji badal adalah ibadah yang sah jika dilakukan untuk orang yang sedang sakit sampai-sampai tidak ada harapan. Atau, ibadah tersebut juga sah jika dilakukan untuk orang yang benar-benar lemah fisiknya. Ibadah ini juga masih sah,  jika orang yang ingin dibadalkan hajinya telah meninggal dunia. Namun, pembadalan tidak sah jika dilakukan untuk orang yang lemah atau yang fakir karena kondisi politik dan keamanan.

Hal ini didukung oleh An-Nawawi r.a. yang menyampaikan bahwa kebanyakan ulama menyebutkan ketika badal haji, maka hukumnya sah-sah saja jika hal tersebut dilakukan untuk orang yang sudah menigngal dunia dan untuk orang yang sakit tapi benar-benar tidak punya harapan untuk sembuh.

Sedangkan menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar r.a., beliau menyampaikan bahwa orang yang sah membadalkan adalah orang yang meninggal dunia atau yang sudah lumpuh saja. Artinya, jika orang tersebut sakit, maka tidak perlu membadalkan karena masih ada harapan untuk sembuh.

Hal ini juga berlaku untuk orang gila, sebab masih ada harapan orang gila tersebut akan normal. Juga tidak berlaku pembadalan bagi orang yang dipenjara, sebab harapan untuk bebas masih ada. Begitu juga bagi orang yang fakir, sebab Allah mampu membuat dia kaya tanpa kita ketahui kapan hal tersebut terjadi.

Hal ini disampaikan dalam Fathul Bari, 4/70. Jadi, alangkah baiknya untuk tidak cepat-cepat melakukan membadalkan ketika Anda mendapati salah satu kerabat sedang sakit dan dokter mengatakan tidak ada harapan untuk sembuh. Sebab, Anda tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kondisi kesehatannya di lain waktu.

Dalam kasus lain, Al-Lajnah Ad-Daimah pernah mendapatkan suatu pertanyaan mengenai seorang musim yang sudah berhaji, apakah ia boleh melakukan badal haji untuk kerabatnya yang tinggal di China, karena mustahil baginya untuk ke Mekkah dan melakukan haji. Beliau pun menjawab bahwa alasan politik dan keamanan di perjalanan bukanlah alasan yang tepat untuk melakukannya.

Scroll To Top